Buka 24 jam
Beranda » Artikel Terbaru » Kandungan Syahadat: Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah (Edisi 03)

Kandungan Syahadat: Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah (Edisi 03)

Diposting pada 31 Desember 2019 oleh admin | Dilihat: 34 kali

Para pembaca yang semoga dimuliakan Allah , sebenarnya ikrar dua kalimat syahadat yang sering kita ucapkan itu tidak cukup sekedar di lisan saja. Namun di dalamnya terdapat beberapa konsekuensi yang harus dipenuhi. Bila seseorang tidak sanggup memenuhi kosekuensi- konsekuensi apa yang telah diikrarkan maka ibarat sebuah pengakuan tanpa bukti. Sehingga sia-sialah (percuma) pengakuannya itu. Bahkan hal itu justru menambah hina bagi dirinya, ia telah mengikrarkan sesuatu yang pada kenyataannya justru amalannya menyelisihi apa yang ia ikrarkan. Bukankah Allah telah memberikan peringatan kepada kita kaum mukminin yang tidak mau beramal dengan perkara yang telah kita ucapkan dan kita ikrarkan? Allah berfirman (artinya):

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengucapkan apa-apa yang tidak kalian lakukan? Sungguh besar kemurkaan Allah jika kalian mengucapkan perkara-perkara yang kalian sendiri tidak mau mengamalkannya.” (Ash Shaff: 2-3)

Kita semua telah tahu bahwa dua kalimat syahadat merupakan kalimat yang mulia yang dengannya akan terbedakan antara muslim dan kafir. Ketika seseorang telah menyatakan Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah maka di antara konsekuensi yang harus dia lakukan adalah dia harus mengikhlaskan dan mempersembahkan seluruh peribadatannya hanya kepada Allah . Berdo’a, istighotsah, tawakkal, meminta rizki, takut, menyembelih hewan kurban, dan seluruh jenis ibadah lainnya harus dipersembahkan kepada Allah semata.

Demikian juga dengan syahadat Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah, di dalamnya terkandung beberapa konsekuensi yang harus kita perhatikan dan kita amalkan. Dan Insya Allah pada buletin edisi kali ini, bahasan kita lebih terfokus pada kalimat yang kedua dari Asy Syahadatain tersebut. Karena hal ini merupakan perkara yang sangat penting untuk kita ketahui dan kita amalkan.

Dua Pokok Penting

Ketahuilah, wahai saudaraku seislam dan seiman, kalimat syahadat Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah (atau dengan redaksi yang lebih lengkap: Asyhadu Anna Muhammadan ‘Abduhu Wa Rasuluhu) itu terkandung padanya dua pokok penting yang tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya. Dua pokok penting itulah yang Allah ingatkan dalam ayat-Nya (artinya):
“Katakanlah (wahai Muhammad ): Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, yang diberikan wahyu kepadaku bahwa sesungguhnya sesembahan kalian itu adalah sesembahan Yang Esa.” (Al Kahfi: 110)

Demikian pula Nabi Muhammad juga ingatkan dalam haditsnya. Dari shahabat ‘Ubadah bin Ash Shamit , bahwa Nabi bersabda:

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Barangsiapa yang bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya ….” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dari ayat dan hadits tersebut, kita bisa mengetahui bahwa dua pokok penting tersebut adalah:

Pokok pertama; bahwa beliau adalah manusia biasa seperti kita. Beliau mengalami apa yang selayaknya dialami pada seorang manusia. Mengalami sakit, luka, haus, lapar dan selainnya dari sifat-sifat manusia. Beliau pun tidak memiliki sifat-sifat ilahiyyah. Beliau mengajarkan kepada para shahabatnya untuk memohon kepada Allah dari apa yang mereka butuhkan. Dari Ummu Salamah , bahwa Nabi berdo’a sebelum salam pada shalat shubuh dengan do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا وَرِزْقًا طَيِّبًا

Demikian pula ketika datang musim kemarau yang berkepanjangan, Nabi pun berdo’a kepada Allah supaya diturunkan hujan dan juga pernah shalat istisqa’ bersama para shahabatnya.

Ini semua adalah pengajaran Nabi kepada umatnya bahwa yang berhak dimintai pertolongan itu hanyalah Allah semata. Nabi itu adalah seorang hamba yang menghamba kepada Allah .

Lalu pantaskah kita meminta rizki, berdo’a, meminta untuk dihilangkan kesulitan kita kepada Nabi ? Padahal Allah telah menegaskan (artinya):
Katakanlah (wahai Muhammad ): aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (Al An’am: 50)

Pokok kedua; bahwa beliau adalah Rasulullah (utusan Allah ). Allah telah memilih Muhammad bin ‘Abdillah sebagai utusan-Nya. Allah berhak memilih siapa di antara hamba-Nya yang terpilih untuk menyampaikan risalah dan syari’at-Nya ini kepada umat manusia. Allah berfirman (artinya):

“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (Al An’am: 124)

Dalam kedudukan beliau sebagai seorang rasul maka kedudukannya itu tidak boleh disamakan dengan hamba Allah yang lain. Perintah beliau harus ditaati, nasehat dan petuah beliau harus didengarkan dan diamalkan, sabda-sabda dan kabar yang beliau sampaikan haruslah diterima dan tidak boleh didustakan, karena setiap ucapan yang keluar dari lisan beliau merupakan wahyu sebagaimana firman Allah (artinya): “Dan tidaklah yang diucapkannya (Nabi Muhammad ) itu menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (An Najm: 3-4)

Dua pokok inilah yang seyogyanya dipahami oleh setiap muslim sehingga dia tidak terjatuh ke dalam perbuatan Ifrath (berlebihan dalam mengkultuskan beliau sehingga memposisikan beliau melebihi posisi dan kedudukannya sebagai hamba Allah), dan tidak pula terjatuh ke dalam perbuatan Tafrith (meremehkan dan merendahkan kedudukan beliau sebagai seorang rasul sehingga dia cenderung untuk menolak atau meragukan tentang kebenaran risalah beliau).

Perbuatan seperti inilah yang pernah diperingatkan Rasulullah dalam sebuah sabdanya:

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ, إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُولُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ

“Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan dalam memuji (Isa) bin Maryam, sesungguhnya aku adalah seorang hamba-Nya, maka katakanlah: (Muhammad adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Al Bukhari, Muslim)

Konsekuensi yang Harus Diperhatikan

Di antara konsekuensi dari pernyataan Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah adalah sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama, yaitu:

1. Mentaati Seluruh Perintahnya

Sudahkah kita berupaya untuk mendengar dan mentaati seluruh nasehat dan perintah Nabi ? Bukankah Allah mengutus Rasul-Nya sebagai qudwah (teladan) bagi umatnya? Meneladani prilaku dan akhlaknya, mengikuti petunjuknya, mematuhi perintahnya, dan menelusuri jejak dan sunnahnya. Allah berfirman (artinya):

“Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul melainkan agar ditaati dengan izin Allah.” (An Nisa’: 64)

“Dan apa yang diberikan (diperintahkan) Rasul kepadamu, maka ambillah (laksanakanlah) …” (Al Hasyr: 7)?

Demikian pula sabda Nabi :

وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Dan setiap apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka laksanakanlah semampu kalian.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Inilah bukti kasih sayang beliau kepada umatnya. Tidaklah beliau memerintahkan sesuatu kepada mereka melainkan perintah itu dibatasi dengan kemampuan yang mereka miliki.

Tetapi, tahukah anda bahwa siapa saja dari umat beliau yang berupaya untuk mengikuti dan mentaati Nabinya dengan ikhlas, maka sungguh dia akan mendapatkan sekian banyak keutamaan yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya ?

Bukankah anda ingin untuk mendapatkan kecintaan dari Allah ? Kecintaan dari Allah itu hanya akan didapatkan oleh orang-orang yang mau mengikuti dan mentaati Rasulullah sebagaimana firman-Nya (artinya): “Katakanlah (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah pasti akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali ‘Imran: 31)

Rasulullah bersabda:

“Setiap umatku akan masuk Al Jannah (surga) kecuali orang yang enggan. Para shahabat bertanya: Siapa orang yang enggan itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Barangsiapa yang mentaatiku, dia akan masuk Al Jannah, dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka sungguh dia telah enggan.” (HR. Al Bukhari)

2. Membenarkan Seluruh Berita yang Disampaikan Beliau

Sudahkah kita membenarkan seluruh berita yang disampaikan Rasulullah ? Pernahkah terbetik di benak kita perasaan ragu akan berita yang disampaikan beliau ?

Pembaca yang semoga Allah memuliakan kita, jangan ada sedikitpun perasaan ragu apalagi sampai mengingkari berita-berita yang dibawa oleh Nabi . Karena tidaklah beliau bersabda melainkan itu merupakan sebuah wahyu yang Allah wahyukan kepada beliau . Allah berfirman (artinya):

“Dan tidaklah yang diucapkannya (Nabi Muhammad ) itu menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (An Najm: 3-4)

Beliau adalah Ash Shadiqul Mashduq (yang jujur dan bisa dipercaya), setiap kabar dan berita yang disampaikan oleh Rasulullah , baik kabar tentang kejadian umat terdahulu maupun kejadian yang dialami Rasulullah sendiri seperti Isra’ dan Mi’raj, dan juga kejadian yang akan datang seperti akan datangnya hari kiamat, akan adanya hari pembalasan, dan yang lainnya, maka wajib bagi kaum mukminin untuk membenarkan dan mengimaninya.

Pantaskah bagi seorang muslim untuk meragukan dan apalagi mendustakan segala berita dari Nabi , padahal beliau pernah bersabda:

أَلاَ تَأْمَنُوْنِي وَأَنَا أَمِيْنُ مَنْ فِي السَّمَاءِ؟ يَأْتِيْنِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً

“Tidakkah kalian mempercayaiku padahal aku adalah kepercayaan Dzat yang ada di langit (Allah)? Senantiasa datang kepadaku kabar dari langit pagi dan petang.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

3. Menjauhi Semua Larangannya

Sudahkah kita meninggalkan dan menjauhi setiap perkara yang dilarang oleh Rasulullah ? Berapa banyak peringatan dan larangan dari beliau yang kita langgar dan kita selisihi? Pertanyaan ini hendaknya menjadi renungan bagi kita semua karena sungguh Allah telah menegaskan dalam Al Qur’an (artinya):

“… dan apa yang dilarangnya (Rasulullah), maka tinggalkanlah.” (Al Hasyr: 7)

Demikian pula sabda beliau :

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ

“Setiap yang aku larang bagi kalian, maka jauhilah …” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Para pembaca yang semoga Allah memberikan hidayah kepada kita, kalau masihkah ada di antara kita yang menyelisihi apa-apa yang dilarang oleh junjungan kita , maka hendaknya segera bertaubat dan beristighfar sebelum ajal menjemputnya. Rahmat Allah itu luas, pintu taubat masih terbuka lebar-lebar. Padahal Allah itu benar-benar mencintai hamba-hamba-Nya yang mau bertaubat kepada-Nya . Karena dikhawatirkan kalau sekiranya kita menyelisihi dan melanggar sabda Rasul-Nya , Allah akan menurunkan adzab-Nya kepada kita. Sebagaimana firman-Nya (artinya):

“Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintahnya (Rasulullah ) takut akan ditimpa fitnah (bencana) dan adzab yang pedih.” (An Nur: 63)

4. Beribadah kepada Allah Sesuai dengan Tuntunan Beliau

Sudahkah ibadah yang kita lakukan sesuai dengan tuntunan beliau ? Sudahkah amal ibadah yang kita lakukan sesuai dengan bimbingan beliau ? Tentunya kita khawatir akan terjerumus ke dalam apa yang pernah diingatkan Rasulullah dalam sabdanya:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak pernah kami tuntunkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

Wahai saudaraku yang mulia, seyogyanya bagi kita semua selalu berupaya untuk menyesuaikan segala amal ibadah kita dengan tuntunan Rasulullah . Karena tujuan utama diutusnya Rasulullah ke muka bumi ini adalah dalam rangka mengajari umat manusia bagaimana cara ibadah yang benar kepada Allah . Itulah hikmah kenapa syahadat Muhammadar Rasulullah diletakkan syahadat Laa Ilaaha Illallah. Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk mencontoh Rasulullah dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan. Amien, ya Rabbal ‘alamin.

Kandungan Syahadat: Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah (Edisi 03) | Buletin Saku Al Ilmu

Belum ada komentar untuk Kandungan Syahadat: Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah (Edisi 03)

Silahkan tulis komentar Anda

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
PESAN CEPAT
Edisi 09: Keutamaan Dzikir

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 1.500
Ready Stock / ED09
Rp 1.500
Ready Stock / ED09
PESAN CEPAT
Edisi 02: Kewajiban Bertauhid Dan Menjauhi Kesyirikan

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 1.500
Ready Stock / ED02
PESAN CEPAT
Edisi 04: Adab Ketika Sakit

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 1.500
Ready Stock / ED04
Rp 1.500
Ready Stock / ED04
SIDEBAR