+(62) 812 3475 557
+(62) 812 3447 5557
buletin_saku
admin@buletinsaku.com

Blog Post

HIKMAH DAN KEUTAMAAN WUDHU

Para pembaca yang mulia, wudhu’ merupakan suatu amalan yang kerap kali kita lakukan. Tata caranya cukup ringkas dan praktis. Namun mengandung keutamaan yang sangat besar, sehingga kita tidak boleh meremehkannya. Karena seluruh syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkandung padanya hikmah dan manfa’at.

Allah Ta’ala berfirman : “…Dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah Ta’ala akan melipat gandakannya dan memberikan pahala yang besar.” (an Nisaa’: 40)

Begitu pula halnya dengan wudhu’. Meskipun terkesan ringan dan ringkas, tetapi memiliki keutamaan yang sangat besar. Sebagaimana yang Allah Ta’ala janjikan pada ayat diatas. Berikut ini kami sebutkan beberapa keutamaan wudhu’, diantaranya:

  1. Pembersih dari noda-noda dosa dan penambah amal kebajikan.

Dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu’ kemudian mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua kakinya, maka akan keluar setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudhu’ atau bersama tetesan akhir air wudhu’, hingga ia selesai dari wudhu’nya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa-dosa.” (HR. Muslim no. 244)

Subhanallah… Hal ini merupakan sebuah rahmat dan kasih sayang yang sangat besar tiada tara yang diberikan Allah Rabbul ‘Alamin kepada para hamba-Nya.

Perlu kita sadari, bahwa manusia bukanlah makhluk yang sempurna, bahkan Allah Ta’ala sebagai Sang Khaliq (Pencipta) menyifati manusia sebagai makhluk yang bodoh dan sering lalai, sehingga tak jarang terjatuh dalam perbuatan dosa dan kezhaliman. Sebagaimana firman AllahTa’ala(artinya):

“Sesungguhnya manusia itu amat zhalim (aniaya) dan amat bodoh.” (al Ahzab: 72)

Ditegaskan pula dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

“Setiap anak cucu Adam pasti selalu melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik mereka yang melakukan kesalahan adalah yang selalu bertaubat.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan ad Darimi)

Akan tetapi, AllahTa’aladengan rahmat-Nya yang amat luas memberikan solusi mudah untuk membersihkan diri dari noda-noda dosa, diantaranya adalah dengan berwudhu’. Sehingga diharapkan ketika seseorang selesai dari berwudhu’, ia bersih dari dosa-dosa yang telah dilakukannya, (hal ini selama dijauhi  dosa-dosa besar).

  1. Anggota wudhu’ akan bercahaya pada hari kiamat.

Pada hari kiamat nanti, umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam akan terbedakan dengan umat yang lainnya dengan cahaya yang memancar dari anggota wudhu’.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu’.” (HR. al Bukhari no. 136 dan Muslim no. 246)

Dalam riwayat yang lain:

“Bagaimana engkau mengenali umatmu setelah sepeninggalmu, wahai Rasulullah?“ Seraya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tahukah kalian bila seseorang memilki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya diantara kuda-kuda yang yang berwarna hitam yang tidak ada warna selainnya, bukankah dia akan mengenali kudanya? Para shahabat menjawab: “Tentu wahai Rasulullah.”   Rasulullah berkata: “Mereka (umatku) nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi dan kedua tangan dan kaki, karena bekas wudhu’ mereka.” (HR. Muslim no. 249)

Hadits diatas menjelaskan bahwa umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bercahaya pada hari kiamat nanti disebabkan karena amalan wudhu’. Tentunya, siapa yang tidak pernah berwudhu’, maka bagaimana mungkin dia akan bercahaya, sehingga dengan tanda tersebut, Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengenali sebagai umatnya?

  1. Mengangkat derajat disisi Allah Ta’ala

Semulia-mulia derajat adalah derajat yang tinggi disisi Allah Ta’ala. Adapun seseorang yang meraih derajat tinggi dihadapan manusia itu belum tentu ia berada pada derajat tinggi disisi Alah Ta’ala. Maka dengan wudhu’ yang sempurna akan dapat mengangkat derajat yang tinggi di sisi Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajatnya! Para shahabat berkata:   “Tentu, wahai Rasulullah.”     Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Menyempurnakan wudhu’ walaupun dalam kondisi sulit, memperbanyak langkah menuju  ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, maka itulah yang disebut dengan ar Ribath.” (HR. Muslim no. 251)

Selain wudhu’ memiliki keutamaan yang besar, wudhu’ juga memilki peranan dan pengaruh penting pada amalan yang lainnya.

Coba perhatikan pada shalat lima waktu atau shalat sunnah yang kita kerjakan! Tidak akan sah shalat jika tanpa berwudhu’ terlebih dahulu. Karena wudhu’ merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Allah tidak akan menerima shalat seseorang apabila ia berhadats, hingga dia berwudhu’.” (HR. al Bukhari no. 135 dan Muslim no. 225 dari sahabat Abu Hurairah)

Bahkan para ‘ulama bersepakat bahwasanya shalat tidak boleh ditegakkan kecuali dengan berwudhu’ terlebih dahulu, selama tidak ada udzur untuk meninggalkan wudhu’ tersebut (al Ausath 1/107).       

Berikut ini akan kami paparkan beberapa waktu yang disunnahkan (dianjurkan) untuk berwudhu’. Dengan ini kita akan mengetahui, betapa tinggi peranan dan pengaruh amalan wudhu’ bagi diri seseorang. Sehingga kita tidak menganggapnya enteng (ringan, remeh). Diantara waktu yang disunnahkan untuk berwudhu’, yaitu;

  1. Berwudhu’ ketika hendak pergi ke masjid

Termasuk sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berwudhu’ sebelum berangkat ke masjid untuk shalat berjama’ah. Yang memiliki pengaruh (nilai) yang lebih dibanding tidak berwudhu’ terlebih dahulu.

Yaitu AllahTa’alamenjadikan barakah pada setiap langkah kaki kanan maupun kiri berupa penghapusan dosa dan penambahan pahala. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila seorang dari kalian berwudhu’, lalu ia menyempurnakan wudhu’nya, kemudian ia pergi ke masjid karena semata-mata hanya untuk melakukan shalat, maka tidaklah ia melangkahkan kaki kirinya melainkan terhapus kejelekan darinya dan dituliskan kebaikan bersama langkah kaki kanannya hingga masuk masjid.” (HR. Ath Thabarani dalam al Mu’jam al Kabir dari shahabat Ibnu Umar, dan dishahihkan asy Syaikh al Albani dalam Shahih al Jami’ no. 454)

  1. Menyentuh Mushaf Al Qur’an

Al Qur’an adalah kalamullah (firman Allah Ta’ala) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kitab suci umat Islam. Dalam rangka memuliakan Al Qur’an sebagai kalamullah (firman Allah), maka disunnahkan berwudhu’ sebelum memegang kitab suci al Qur’an ini. al Imam ath Thabarani dan al Imam ad Daraquthni meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari shahabat Hakim bin Hizam rashiyallahu ‘anhu:

“Janganlah kamu menyentuh al Qur’an kecuali dalam keadaan suci”.

Bagaimana jika hanya membacanya saja tanpa menyentuhnya, apakah hal ini juga disunnahkan (dianjurkan) oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ya, hal itu disunnahkan oleh Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana sabdanya:

“Sesungguhnya aku tidak menyukai berdzikir kepada Allah kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Abu Dawud dan an Nasa’i dari sahabat Ibnu Umar dan dishahihkan asy Syaikh al Albani).

Tentunya, membaca al-Qur’an adalah semulia-mulia dzikir kepada Allah Ta’ala.

  1. Berwudhu’ ketika hendak tidur

Termasuk sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berwudhu’ sebelum tidur. Hal ini bertujuan agar setiap muslim dalam kondisi suci pada setiap kedaannya, walaupun ia dalam keadaan tidur. Hingga bila memang ajal datang menjemputnya, maka diapun kembali kehadapan Rabb-nya dalam keadaan suci.

Dan sunnah ini pun akan mengarahkan pada mimpi yang baik dan terjauhkan diri dari permainan setan yang selalu mengincarnya. (Lihat Fathul Bari 11/125 dan Syarah Shahih Muslim 17/27)

Tentang sunnah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam sabda beliau yang diriwayatkan dari sahabat Al Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhu’lah sebagaimana wudhu’mu untuk shalat.” (HR. al Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710)

Lebih jelas lagi, dari riwayat shahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seorang muslim tidur di malam hari dalam keadaan telah berdzikir dan bersuci, kemudian ketika dia terbangun dari tidurnya meminta kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat, melainkan pasti Allah akan mengabulkannya.” (Fathul Bari juz 11/124)

Demikianlah sunnah yang selalu dijaga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak tidur, yang semestinya kita sebagai muslim meneladaninya. Bahkan ketika beliau terbangun dari tidurnya untuk buang hajat, maka setelah itu beliau berwudhu’ sebelum kembali ke tempat tidurnya. Sebagaimana yang diceritakan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu:

“Bahwasanya pada suatu malam Rasulullah pernah terbangun dari tidurnya untuk menunaikan hajat. Kemudian beliau membasuh wajah dan tangannya (berwudhu’) lalu kembali tidur.” (HR. Al Bukhari no. 6316 dan Abu Dawud no. 5043 dan dishahihkan asy Syaikh al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 4217)

  1. Berwudhu’ ketika hendak berhubungan dengan istri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan bimbingan bagi para suami agar ia berdo’a sebelum melakukannya, dengan doa’ yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkan setan dari apa yang Engkau rizkikan kepada kami.” (HR. al Bukhari no. 141)

Kemudian ketika telah usai dan ingin mengulanginya lagi maka hendaknya berwudhu’ terlebih dahulu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila seseorang telah berhubungan dengan istrinya, kemudian ingin mengulanginya lagi maka hendaklah berwudhu’ terlebih dahulu.” (HR. Muslim no. 308, at Tirmidzi, Ahmad dari Abu Sa’id al Khudriradhiyallahu ‘anhudan dishahihkan asy Syaikh al Albani dalam ats Tsamarul Mustathob hal.5)

Dengan tujuan agar setan tidak ikut campur dalam acara yang sakral ini, dan bila dikaruniai anak, maka setan tidak mampu memudharatkannya (menzhalimi si kecil).

Para pembaca, bila kita baca biografi para ‘ulama, maka kita dapati mereka amat bersungguh-sungguh menjaga wudhu’nya dalam setiap keadaan. Sebagai contoh, al Imam asy Syathibi. Walaupun beliau adalah seorang yang buta, akan tetapi tidaklah beliau duduk di suatu majlis ilmu, kecuali beliau selalu dalam keadaan suci.

Bahkan diantara ‘ulama ada yang tidak mau membaca hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga mereka berwudhu’ terlebih dahulu. Bukan karena mereka berpendapat wajibnya berwudhu’ ketika hendak membaca hadits, akan tetapi yang mendasari untuk melakukan hal tersebut adalah kesungguhan mereka untuk menghormati ilmu dan mendapatkan keutamaan yang besar dari wudhu’.

Akhir kata, wudhu’ bukanlah amalan yang remeh bahkan amalan yang besar disisi Allah Ta’ala. Sehingga mendorong kita untuk selalu dalam kondisi suci (berwudhu’) dan berupaya bagaimana berwudhu’ dengan sempurna sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ikutilah edisi-edisi mendatang yang insya Allah akan menampilkan sebuah tema menarik tentang taca cara wudhu’ yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahu ‘alam bishshawwab..

 *****

Tinggalkan Balasan

Related Posts

Edisi 6 – Bagaimana Melakukan Manasik Haji?

Saudaraku yang mulia, sebelumnya telah diterangkan bahwa Haji ada tiga macam: Tamattu’, Qiran dan

EDISI 05 BERSAHUR DAN BER-IFTHAR (BERBUKA) MENURUT TUNTUNAN RASULULLAH

Sahur dan ifthar merupakan dua prosesi yang cukup berarti dalam keberlangsungan shaum seorang muslim.