+(62) 812 3475 557
+(62) 812 3447 5557
buletin_saku
admin@buletinsaku.com

Blog Post

Edisi 07: Pengajaran Cara Wudhu’ Nabi

Para pembaca rahimakumullah, di antara permasalahan penting yang mesti dipelajari oleh seorang muslim adalah permasalahan yang berkaitan dengan kaifiyah/tata cara berwudhu. Yang demikian ini dikarenakan berwudhu merupakan salah satu syarat shalat yang wajib untuk dilaksanakan dengan sempurna. Sah dan tidaknya shalat tergantung dengan benar atau tidak wudhu seseorang. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ 

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah wajah kalian dan tangan kalian sampai dengan siku, dan usaplah kepala dan (basuhlah) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki.” (Al-Maidah: 6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَأَ

“Allah tidak akan menerima shalat salah seorang dari kalian apabila berhadats (kecil) sampai dia berwudhu.” (Muttafaqun ‘alaih dari sahabat Abu Hurairah)

TATA CARA BERWUDHU

Para pembaca rahimakumullah, ayat yang tersebutkan di atas berisi perintah Allah untuk berwudhu terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat. Namun di ayat tersebut Allah hanya menyebutkan secara global saja. Maka untuk mengetahui bagaimana rasulullah berwudhu maka wajib bagi kita untuk merujuk kepada hadist-hadist beliau yang menunjukkan tentang kaifiyah berwudhu secara terperinci. Salah satu hadist tersebut adalah hadist dari sahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim. Al-Imam Ibnu Syihab az-Zuhri ketika mengomentari hadist ‘Utsman ini beliau berkata “Dulu para ‘ulama kita mengatakan bahwa cara wudhu’ di atas (yang tersebutkan dalam hadist ‘Utsman) merupakan wudhu’ yang paling sempurna untuk shalat.”

Berikut lafadz hadist tersebut;

أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ  دَعَا بِوَضُوءٍ، فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Disebutkan bahwa pada suatu hari sahabat ‘Utsman bin ‘Affan  meminta disediakan air wudhu’, maka beliaupun berwudhu’:

– (Pertama kali) ia membasuh dua telapak tangannya 3x.

Yang mesti kita perhatikan sebelum memulai wudhu wajib bagi seseorang berniat untuk berwudhu di dalam hati dengan tidak mengucapkannya karena baginda nabi tidak pernah melafadzkan niatnya baik di dalam wudhu maupun shalatnya, dan juga seluruh ibadahnya. Begitu pula karena Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati sehingga tidak ada erlunya untuk memberitakan niat lewat lisannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيِّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya setiap amalan itu hanyalah tergantung dengan niatnya, dan masing-masing orang hanyalah akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. al Bukhari dan Muslim dari sahabat ‘Umar bin al Khattab)

Kemudian membasuh kedua telapak tangannya dan disunnahkan sebelumnya untuk membaca basmalah. Al-Imam asy-Syafi’i berkata, “Aku menyenangi bagi seseorang untuk menyebut nama Allah saat hendak berwudhu. Bila ia lupa, maka ia mengucapkannya ketika ingat selama ia sedang menunaikan wudhunya. Bila ia meninggalkan tasmiyah (mengucapkan basmalah) karena lupa atau sengaja, maka tidak akan merusak wudhunya, insya Allah.” (al-Umm, 1/31)

– Kemudian berkumur-kumur (madhmadhah) dan beristintsar.

Petunjuk Nabi dalam hal ini adalah beliau menyambung antara berkumur dengan istinsyaq (tidak memisahkan dengan cidukan yang berbeda) sebagaimana teriwayatkan dalam Shahihain dari hadits Abdullah bin Zaid. (Zadul Ma’ad, 1/48—49)

Sebelum istintsar tentunya beristinsyaq yaitu memasukkan air ke dalam hidung dengan menghirupnya ke dalam hidung. Setelah itu beristintsar yaitu mengeluarkan (menyemburkan) air dari hidung setelah istinsyaq. (Syarah Shahih Muslim, 3/105, karya an-Nawawi)

Nabi bersabda:

وَبَالِغْ فِي الإِسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُوْنَ ضَائِمًا

Bersungguh-sungguhlah engkau dalam beristinsyaq kecuali bila engkau sedang puasa.” (HR. Abu Dawud no. 123, at-Tirmidzi no. 718)

– Kemudian membasuh wajahnya 3x

Al-Imam an-Nawawi berkata, “Disenangi untuk mengambil air dengan kedua telapak tangan ketika hendak mencuci wajah, karena hal tersebut lebih mudah dan lebih dekat untuk membaguskan wudhu.” (Syarah Shahih Muslim, 3/122)

– Kemudian membasuh tangan kanannya hingga ke siku 3x

Cara membasuhnya dimulai dari ujung jari hingga siku dan mendahulukan tangan sebelah kanan.

– Kemudian membasuh tangan kirinya seperti itu ( yakni hingga ke siku 3x)

– Kemudian mengusap kepalanya

Dalam riwayat lain disebutkan cara mengusapnya:

فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْه

“Mengusapkan dengan kedua telapak tangannya mulai dari bagian depan kepalanya, kemudian menggerakkan kedua tangannya hingga ke tengkuknya, kemudian menggerakkan kembali ke tempat semula.” (Muttafaq ‘alaihi)

Mengusap kepala cukup sekali saja. Setelah itu langsung mengusap kedua daun telinga (tanpa mengambil air baru lagi). Karena mengusap kedua daun telinga itu bagian dari mengusap kepala. (HR. Abu Dawud no. 115)

– Kemudian membasuh kaki kanan hingga ke mata kaki 3x

Caranya membasuhnya hingga merata kesemua bagian kaki, mulai dari jari jemari hingga kedua mata kaki, dan jangan sampai luput dari membasuh tumitnya. Karena terdapat riwayat khusus dari Nabi memberikan peringatan keras terhadap orang yang lalai membasuh tumit. (Muttafaqun alaihi)

– Kemudian membasuh kaki kirinya seperti itu (yakni hingga ke mata kaki 3x)

Kemudian beliau (‘Utsman) berkata, ‘Dulu aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu’ seperti wudhu’ yang aku praktekkan ini, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Barangsiapa berwudhu’ seperti wudhu’-ku ini kemudian ia shalat dua raka’at dan tidak terbetik di dalam hatinya selain dari perkara shalatnya, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.”

DOA SETELAH BERWUDHU

Para pembaca rahimakumullah, untuk melengkapi wudhu kita agar lebih menjadi sempurna maka hendaknya kita memanjatkan doa setelah berwudhu. Salah satu doa yang diajarkan baginda rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam  dengan lafadz:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak (dibadahi) kecuali Allah tidak ada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya. Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang senang bersuci.” (HR. Muslim no. 234 dan at Tirmidzi no. 55)

Barangsiapa yang membaca doa ini setelah dia menyelesaikan wudhu dengan sempurna maka akan mendapatkan pahala yang sangat besar yaitu pintu-pintu dari 8 surga akan terbuka dan baginya untuk masuk dari pintu yang dia inginkan.

NASEHAT

Para pembaca rahimakumullah, demikianlah pembahasan ringkas kaifiyah berwudhu yang diajarkan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ada beberapa hal pula yang hendaknya kita perhatikan;

1. Wajib bagi seseorang untuk memperhatikan dan menyempurnakan wudhunya. Dia harus benar-benar yakin bahwa seluruh anggota wudhu dipastikan telah terkena air wudhu dengan sempurna. Satu bagian anggota wudhu yang tidak terbasuh dengan sempurna maka tidaklah dikatakan seseorang itu telah berwudhu dengan benar. Suatu ketika rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang shalat namun ada sedikit bagian dari kakinya yang belum terkena air wudhu, maka rasulullah memerintahkannya untuk mengulang wudhu dan shalatnya. (HR. Ahmad 3/424 dan Abu Daud no. 175)

2. Hendaknya hemat dalam menggunakan air ketika berwudhu, karena demikian yang diajarkan oleh baginda nabi. Bahkan sebagian ulama memandang makruh berlebih-lebihan dalam menggunakan air ketika berwudhu. (al Muhalla).

Hal ini sebagaimana digambarkan oleh sahabat Anas bin Malik:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَتَوَضَّأُ بِالْمَدِّ وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ

” Adalah rasulullah berwudhu dengan satu mud dan mandi dengan satu sha’ sampai lima mud.”

(HR. al Bukhari dan Muslim)

Satu mud adalah ukuran yang memenuhi 2 telapak tangan orang dewasa yang dirapatkan menengadah. Adapun satu sha’ ukurannya sama dengan 4 mud, sehingga rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mandi menggunakan 4 sampai 5 mud air, subhanallah, bisakah kita mencontoh beliau dalam wudhu dan mandi kita?

Allahu a’lam bish shawab. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Related Posts

Edisi 6 – Bagaimana Melakukan Manasik Haji?

Saudaraku yang mulia, sebelumnya telah diterangkan bahwa Haji ada tiga macam: Tamattu’, Qiran dan

EDISI 05 BERSAHUR DAN BER-IFTHAR (BERBUKA) MENURUT TUNTUNAN RASULULLAH

Sahur dan ifthar merupakan dua prosesi yang cukup berarti dalam keberlangsungan shaum seorang muslim.

Arti Sebuah Kejujuran
HIKMAH DAN KEUTAMAAN WUDHU

Para pembaca yang mulia, wudhu’ merupakan suatu amalan yang kerap kali kita lakukan. Tata