+(62) 812 3475 557
+(62) 812 3447 5557
buletin_saku
admin@buletinsaku.com

Blog Post

Cahaya Bakti tuk Ayah Bunda

 Mengenal Jerih Payah Ayah Bunda

Anak merupakan dambaan setiap orang. Kehadirannya menjadi penyejuk pandangan orang tua, menjadi penggembira ketika susah, dan menjadi penghibur qalbu ketika gundah gulana. Kalimat “Anakku sayang”, akan senantiasa terucap meski sang ibu atau bapak sedang mengalami sakit yang parah. “Biar bapakmu susah asal kamu tetap senang”, demikian ucapan seorang bapak yang sangat sayang pada anaknya. Seraya bermunajat dengan penuh harap kepada Allah Rabbul ‘alamin:

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqan: 74)

Sosok anak tidak akan dapat terlepas dari ayah dan ibunya. Bagaimanapun keadaannya, ia adalah bagian dari keduanya. Dia adalah darah daging keduanya. Rahim ibu adalah tempat buaiannya yang pertama di dunia ini. Air susunya sebagai sumber makanan yang menumbuhkan jasadnya. Kasih sayang ibu adalah ketenangan yang ia selalu rindukan. Kerelaan ibu untuk berjaga membuat nyenyak tidur. Kegelisahan ibu menyisakan kebahagian untuknya. Timangan ayah dirasakan sebagai kekokohan. Perasan keringat ayah memberikan rasa kenyang dan hangat bagi dirinya. Allah Ta’ala berfirman (artinya):

Dan Kami wasiatkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan payah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu. (Luqman: 14)

Berbakti Kepada Orang Tua Adalah Petunjuk  Para Nabi Dan Rasul

Allah Ta’ala mengabadikan di dalam Al Qur’an tentang kisah-kisah bakti mereka kepada orang tua, supaya dapat diambil pelajaran bagi umat manusia bahwa ini merupakan petunjuk dan jalan seluruh para nabi dan rasul. Diantaranya adalah firman Allah Ta’ala (artinya):

”Dan aku (yaitu Nabi Isa ‘alaihissalam) adalah orang yang berbakti kepada ibuku dan dia tidak menjadikanku sebagai orang yang sombong lagi celaka.” (Maryam:32).

“Dan dia (yaitu Nabi Yahya ‘alaihissalam) adalah orang yang berbakti kepada orang tuanya dan dia bukanlah orang yang sombong lagi yang maksiat.” (Maryam:14).

Perintah Berbakti  Kepada Orang Tua beriringan dengan Perintah Bertauhid

Tujuan paling agung dari dakwah para nabi dan rasul adalah tauhid yaitu beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dirangkaikannya antara kewajiban bertauhid dengan berbuat baik kepada orang tua di dalam Al Qur’an maupun As Sunnah menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan ibadah agung di sisi Allah Ta’ala. Diantaranya firman Allah Ta’ala:

”Katakanlah kemarilah aku akan membacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Robbmu janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” ‘(Al An’am:151).

”Beribadahlah kepada Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada orang tua.” (An Nisa’: 36).

Di dalam As Sunnah, Abu Bakrah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya):

“Maukah kuberitakan kepada kamu tentang dosa-dosa besar yang terbesar?” Kami menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua…” (Muttafaqun ‘alaihi)

Bentuk-Bentuk Berbakti Kepada Orang Tua

1. Mentaati perintah keduanya dan menjauhi larangannya selama tidak dalam rangka bermaksiat kepada Allah

Allah Ta’ala berfirman (artinya):

“Jika keduanya memaksamu untuk kamu menyekutukan Aku yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya maka janganlah kamu menaati keduanya dan pergaulilah mereka di dunia dengan cara yang baik.” (Luqman: 15)

2. Memuliakan keduanya dan merendah di hadapannya, berucap dengan ucapan yang baik serta tidak menghardiknya

Allah Ta’ala berfirman (artinya):

“Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya telah lanjut usia (dalam pemeliharaanmu) maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’dan janganlah kamu menghardik mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik, dan rendahkan dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.” (Al Isra’: 23-24)

3. Tidak melakukan safar(perjalanan) jauh melainkan dengan seijin keduanya begitu juga jihad yang hukumnya fardhu kifayah

‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Seseorang menghadap Nabi Allah Ta’ala lalu berkata: ‘Aku membai’atmu di atas hijrah dan jihad untuk mencari pahala dari Allah Ta’ala. Rasulullah bersabda: ‘Apakah salah seorang dari kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab: ‘Ya, bahkan keduanya’ (masih hidup). Dan beliau bersabda: ‘Kamu ingin mencari pahala dari Allah?’ Dia menjawab: ‘Ya’. Rasulullah bersabda: ‘Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan berbaktilah kepada keduanya’. (Muttafaqun ‘alaihi)

4. Mendahulukan hak kedua orang tua atas hak istri dan anak

Hal ini berdasarkan hadits tentang tiga orang yang masuk ke dalam gua lalu gua tersebut tertutup dengan batu sehingga mereka tidak bisa keluar darinya. Lalu ketiga orang tersebut berdoa kepada Allah Ta’ala dengan cara tawassul dengan amal-amal mereka yang shalih. Salah satu di antara mereka bertawassul dengan amal mengutamakan hak kedua orang tuanya dari hak anak-anak dan istrinya. (H.R. Al Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743)

5. Bersyukur terhadap segala bentuk pengorbanannya

Direalisasikan  dengan cara berkhidmat terhadap segala sesuatu yang dibutuhkan keduanya baik harta, tenaga ataupun pikiran ataupun berusaha menghilangkan segala sesuatu yang dapat mengganggu keduanya. Allah Ta’ala berfirman (artinya): .

“Dan Kami telah memerintahkan kepada manusia untuk (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, karena ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah di atas kelemahan dan menyapihnya selama dua tahun maka bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.”  (Luqman: 14)

Hakekat Kecintaan Dan Berbakti Kepada Orang Tua

Hakekat seorang anak yang cinta dan berbakti kepada orang tua manakala ia menjadi sebab orang tua tetap tsabat (kokoh) memegang prinsip-prinsip agama, atau sabar membimbing keduanya supaya masuk ke dalam agama Islam bila keduanya masih kafir. Sebaliknya hakekat kedurhakaan seorang anak manakala ia menjadi fitnah sehingga menyebabkan orang tuanya terjatuh dalam perbuatan maksiat atau bahkan kekufuran.

Jadikanlah kedua orang tuamu sebagai ladang bercocok tanam untuk akhiratmu dan sebagai jembatan pengantar menuju al jannah (surga)! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya):

“Nista dan hinanya, nista dan hinanya, nista dan hinanya.” Lalu ditanyakan: “Siapa wahai Rasulullah ? ”Beliau bersabda: “Yaitu yang menjumpai kedua orang tuanya lalu tidak menyebabkan dia masuk ke dalam surga.”  (HR. Muslim no. 2551)

Berbakti Kepada Orang Tua Tetap Berlangsung Walaupun Keduanya Sudah Wafat

Ikatan batin dari fitrah seorang anak kepada kedua orang tuanya tidak akan hilang walaupun keduanya telah wafat. Agama Islam tetap mensyari’atkan untuk berbakti kepada orang tua walaupun keduanya telah tiada. Beberapa amalan mulia yang dapat dilakukan sepeninggal keduanya adalah:

1. Mendo’akan kebaikan, memohonkan maghfirah (ampunan) dan rahmat bagi keduanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تُرْفَعُ للْمَيْتِ بَعْدَ مَوْتِهِ دَرَجَتُهُ فَيَقُوْلُ : أَيْ رَبِّي أَيُّ شَيْءٍ هذَا ؟ فَيُقَالُ لَهُ : وَلَدُكَ اسْتَغْفَرَ لَكَ

“Ada seseorang yang dinaikkan derajatnya setelah ia mati, maka ia bertanya: “Wahai Rabbku, ada apa ini?“ Dikatakan kepadanya: “Anakmu memohonkan ampun untukmu.” (Shahih Ibnu Majah no. 3660, karya Asy Syaikh Al Abani).

2. Memperbanyak amalan shalih. Sesungguhnya orang tua akan mendapat balasan (pahala/ganjaran) dari amalan shalih yang dilakukan oleh anaknya, karena anak itu termasuk dari usahanya dan harapannya. Allah Ta’ala berfirman (artinya):

“Dan sesungguhnya manusia tidak memperoleh selain apa yang telah ia usahakan sendiri.”  ‘alaihissalamAn Najm: 39)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ

“Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan oleh seseorang adalah hasil dari usahanya sendiri, dan sesungguhnya seorang anak termasuk dari usahanya (orang tua).” (HR. Abu Dawud, lihat Ahkamul Jana’iz karya Asy Syaikh Al Albani hal. 216)

3. Menyambung silaturahmi (kekerabatan) yang berasal dari keduanya.

4. Menyambung hubungan persaudaraan keluarga kawan orang tuanya. Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda(artinya):

“Sesungguhnya kebaikan yang terbaik adalah menyambung persaudaraan dari keluarga kawan bapaknya.” (HR. Muslim).

5. Memenuhi wasiat keduanya, selama wasiat tersebut dalam hal ma’ruf bukan dalam rangka untuk bermaksiat kepada Allah Ta’ala.

Sikap Terhadap Orang Tua Yang Kafir

Kekufuran orang tua bukan penghalang untuk berbakti dan bergaul dengan keduanya secara baik. Allah Ta’ala berfirman (artinya):

“Jika keduanya memaksamu untuk kamu menyekutukan Aku yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya maka janganlah kamu mentaati keduanya dan pergaulilah mereka di dunia dengan cara yang baik.”  (Luqman: 15).

Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu anhuma berkata:

“Pada masa perjanjian damai antara Quraisy dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ibuku datang, padahal dia seorang wanita musyrik. Maka aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya ibuku datang, namun dia seorang wanita yang musyrik dan memintaku untuk berbuat baik kepadanya. Maka apakah aku boleh menyambung (hubungan) dengannya?” Beliau menjawab: “Ya, sambunglah hubungan dengan ibumu.”  (HR. Al Bukhari)

Hikmah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Sesungguhnya keutamaan dan buah dari berbakti kepada kedua orang tua sangatlah agung dan besar, di antaranya:

  1. Diterimanya amalan shalih dan dihapuskan dosa-dosa baginya. (Al Ahqaf: 15-16)
  2. Terkabulnya do’a. (HR. Al Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743)
  3. Lapang dada dan kebaikan hidup.
    Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَيُنْشَأَ لَهُ فِي أثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung persaudaraan (keluarganya).” (HR. Al Bukhari)

Kemalangan Mendurhakai Orang Tua

Durhaka kepada orang tua merupakan lawan dari berbakti kepada keduanya. Diantara bentuk durhaka kepada orang tua adalah: tidak peduli dengan penderitaan yang dialami orang tua, tidak mau mengakui keberadaan orang tuanya karena jauhnya perbedaan status antara ia dengan keduanya,  mencaci maki keduanya, membentak dan menghardik, memukul, memperbudak, mengkhianati, mendustai, menipu, tidak taat kepada perintah keduanya  dan sebagainya dari bentuk kedurhakaan kepada kedua orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامِةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً : عَاقٌ ، مَنَّانٌ ، وَمُكَذِّبٌ بِالْقَدَرِ

“Tiga orang yang tidak akan diterima amalan wajib maupun sunnah oleh Allah Ta’ala pada hari kiamat yaitu: orang yang durhaka kepada orang tuanya, orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya, dan orang yang mendustakan takdir.” (Shahihul Jami’, karya Asy Syaikh Al Albani no. 3060).

Akhir kata, semoga bahasan kali ini dapat menjadikan kita selalu berbakti kepada kedua orang tua dan menjauhkan kita dari sikap durhaka kepada keduanya. Amiin, Yaa Rabbal ‘Aalamiin..

Wallahu a’lam.

Oleh: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Related Posts

ADAB KETIKA SAKIT

Para pembaca rahimakumullah, dunia merupakan kehidupan yang penuh dengan ujian. Beragam ujian akan dirasakan

Arti Sebuah Kejujuran
ARTI SEBUAH KEJUJURAN

Para pembaca yang mulia, menyoal kejujuran adalah suatu topik pembicaraan yang mahal. Kejujuran tak