+(62) 812 3475 557
+(62) 812 3447 5557
buletin_saku
admin@buletinsaku.com

Blog Post

ARTI SEBUAH KEJUJURAN

Para pembaca yang mulia, menyoal kejujuran adalah suatu topik pembicaraan yang mahal. Kejujuran tak ubahnya ibarat barang langka, namun banyak orang yang mencarinya. Terasa susah sekali mencari orang yang jujur atau yang bisa dipercaya. Tak urung, orang kepercayaan pun bisa jadi musuh dalam selimut.

Seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang semakin canggih, peran kejujuran merupakan modal yang paling urgent (mendasar). Keakuratan dalam memberikan informasi, berita, data, fakta, atau memberikan kesaksian, pembuatan nota, surat menyurat, mengiklankan sebuah produk, mengukur menggunakan timbangan, dan segala yang terkait dengan pernyataan, sikap dan tindakan, seluruhnya tergantung kepada faktor kejujuran.

Demi mengejar persaingan bisnis, persaingan posisi (jabatan), kesenjangan sosial, kesulitan ekonomi atau pun kepentingan lainnya tak jarang dapat melupakan prinsip kejujuran. Tak luput juga dalam dunia pendidikan, adanya persaingan pendidikan yang kurang sehat juga dapat menggugurkan kejujuran. Apabila dalam dunia pendidikan saja sudah lepas dari prinsip kejujuran, maka bagaimana lagi dengan yang diluar dunia pendidikan (yang merupakan hasil/output dari dunia pendidikan)?

Demikian pula dalam rumah tangga, sangat perlu ditanamkan dan diterapkan prinsip kejujuran yang mulia ini. Betapa menyesalnya orang tua, bila sang anak sudah tidak bisa dipegang kejujurannya lagi? Betapa parahnya keretakan hubungan suami istri, bila keduanya tidak saling menaruh kepercayaan? Bila dalam lembaga kecil saja ketidakjujuran membawa dampak negatif yang luar biasa, maka bagaimana lagi dampak yang akan ditimbulkan dalam lembaga yang lebih besar?

Sangat tragis bila slogan miring seperti “sopo sing jujur, ajur” (maknanya: siapa yang jujur, maka ia akan hancur, bahasa Jawa, pen), atau “siapa yang polos, nggak lolos”, ini semakin semarak. Apakah wabah ini bisa terobati? Jawabannya, tentu karena Allah Ta’ala  tidak akan menurunkan sebuah penyakit melainkan pasti ada obatnya. Kembali kepada Islam, mempelajari ajaran-ajarannya dan mengamalkannya adalah obat yang tepat.

 

Jujur adalah Tanda Orang Yang Beriman

Wahai saudaraku kaum muslimin, sesungguhnya agama Islam yang dibawa oleh baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  adalah agama yang menjunjung tinggi prinsip kejujuran. Beliau sendiri adalah seorang yang mendapat gelar al amin (orang yang dapat dipercaya) dimasa itu. Karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  melandasi setiap tindakannya diatas prinsip kejujuran.

Dalam beberapa ayat Al Qur’an, Allah Ta’ala telah menyeru orang-orang yang beriman agar bersikap jujur. Diantaranya adalah firman Allah Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (at Taubah: 119)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar (diantaranya adalah jujur, pen).” (Al Ahzab: 70)

Dalam kedua ayat di atas, Allah Ta’ala memanggil kepada orang-orang yang beriman, agar mereka bertaqwa dan berjalan bersama orang-orang yang jujur. Mengisyaratkan bahwa konsekuensi orang yang mengikrarkan dirinya beriman kepada Allah Ta’ala, hendaknya dia bertaqwa. Dan salah satu bentuk taqwa dia kepada Allah Ta’ala adalah berjalan bersama orang-orang yang jujur. Berpijak diatas pijakan mereka, yaitu melandasi semua perkataan dan perbuatan diatas prinsip kejujuran. Karena kejujuran merupakan tanda kesempurnaan iman dan taqwa dia kepada Allah Ta’ala.

Hal ini juga ditegaskan oleh Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari kiamat, hendaklah dia berkata baik atau hendaknya dia diam (bila tidak bisa berkata baik).” (HR. al Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 48)

Diantara perkataan yang baik adalah perkataan yang jujur. Bahkan kejujuran itu adalah sumber segala kebaikan.

 

Arti Sebuah Kejujuran

Para pembaca, setiap yang menabur biji kebaikan pasti ia akan menuai kebaikan dan demikian pula setiap yang menabur biji kejelekan pasti ia akan menuai kejelekan pula. Ini merupakan sunnatullah (ketetapan Allah Ta’ala) yang sejalan dengan fitrah yang suci.

al Imam al Bukhari dan al Imam Muslim meriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wajib atas kalian untuk jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu akan mengantarkan kepada jalan kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu akan  mengantarkan kedalam al jannah (surga), sesungguhnya orang yang benar-benar jujur akan dicatat disisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan hati-hatilah dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu akan mengantarkan ke jalan kejelekan, dan sesungguhnya kejelekan itu akan mengantarkan kedalam an naar (neraka), sesungguhnya orang yang benar-benar dusta akan dicatat disisi Allah sebagai pendusta.” (HR. al Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2606)

Dalam hadits diatas menunjukkan bahwa jujur merupakan amalan yang amat terpuji. Dari sebuah kejujuran akan tegak kebenaran, keadilan, dan sekian banyak kebaikan dibaliknya. Hati akan menjadi tenang dan tentram. Karena orang yang jujur itu tidak mengurangi atau menzhalimi hak orang lain. Sehingga semakin  menambah kepercayaan dari orang lain.

Cobalah perhatikan, bila seseorang berkata atau bertindak jujur, maka orang lain akan merasa dirinya dihormati, diperlakukan adil, tidak dizhalimi atau tidak dikhianati. Sehingga menumbuhkan rasa saling percaya, menambah rajutan ukhuwah (persaudaran), dan mahabbah (kasih sayang).

Namun sebaliknya, dari ketidakjujuran akan menyebabkan terjatuh dalam perbuatan zhalim, curang atau berdusta kepada orang lain. Yang berakibat memudarnya sikap saling percaya, bahkan akan timbul kedengkian, permusuhan, dan sikap jelek lainnya. Sehingga jujur itu benar-benar akan mendatangkan kebaikan dan sebaliknya dibalik ketidakjujuran itu terdapat sekian malapetaka. Demikianlah janji Allah Ta’ala dalam firman-Nya (artinya):

“… Tetapi jikalau mereka jujur terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Muhammad: 21)

Sebenarnya segala perbuatan itu bisa dinilai sendiri, apakah perbuatan itu didasari dengan jujur ataukah tidak? Bila perbuatan itu didasari dengan kejujuran maka hati itu akan menjadi tentram dan tenang. Berbeda dengan perbuatan yang didasari dengan ketidakjujuran maka hati itu akan selalu gundah gulana dan bimbang. Maka sesuatu yang masih ragu atau bimbang hendaknya ditinggalkan. Sebagaimana Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tinggalkan sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Karena kejujuran itu adalah sesuatu yang menenangkan, sedangkan dusta itu adalah sesuatu yang membimbangkan.” (HR. at Tirmidzi no. 2518, an Nasa’i 8/327-328, dan Ahmad 1/200, dari shahabat al Hasan bin Ali bin Abi Thalib)

Para pembaca, sehingga image bahwa “jujur itu ajur” itu tidaklah benar. Bahkan sikap jujur itu pasti berakibat “mujur” (baik) dan “ma’jur” (mendapat pahala dari Allah Ta’ala). Diantara dampak yang baik dari perbutan jujur adalah;

  1. Sebab mendapat barakah dari Allah Ta’ala. Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Penjual dan pembeli itu memiliki hak untuk meneruskan atau membatalkan akad jual belinya selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur menjelaskan keadaan barangnya maka akan diberkahi jual belinya dan jika keduanya dusta dan menyembunyikan (aibnya) maka akan dihapus keberkahan dalam jual belinya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ini adalah suatu gambaran dari Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam tentang usaha dagang (bisnis) yang didasari dengan prinsip kejujuran. Jujur dalam memberikan sifat barang, jujur dalam timbangan, atau jujur dalam segala hal yang terkait dengan jual beli.

Maka bisnis itu akan diberkahi oleh Allah Ta’ala.  Sebaliknya bila berlaku culas (menipu) dalam bisnisnya maka akan menjauhkan dia dari barakah-Nya, bahkan Allah Ta’ala akan mendatangkan siksaan padanya. Seperti curang dalam timbangan, maka Allah Ta’ala mengancam dengan ancaman yang keras, sebagaimana firman-Nya:

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu curang dalam menakar dan menimbang).” (al Muthaffifin: 1)

  1. Jujur sebagai sebab akan diperbaiki dan diterima amalan-amalan lainnya oleh Allah Ta’ala.
  2. Jujur sebagai sebab datangnya maghfirah (ampunan) Allah Ta’ala.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar (jujur), niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalanmu dan akan mengampuni dosa-dosamu, …” (al Ahzab: 70-71)

  1. Mendapat pahala yang besar dari Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman (artinya): “(Sesungguhnya), … laki-laki dan perempuan yang jujur, … Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab : 35)

Diantara pahala yang besar yang Allah Ta’ala janjikan, yaitu barangsiapa yang memohon derajat syahid disisi Allah Ta’ala dengan jujur, niscaya Allah Ta’ala akan memenuhi permohanannya, meskipun ia mati diatas ranjangnya. Sebagaiamana hadits Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam :

“Barangsiapa memohon kepada Allah derajat syahid dengan jujur niscaya Allah akan menyampaikannya ke derajat para syuhada’, meskipun ia meninggal diatas ranjangnya.” (HR. Muslim no. 1909)        Demikian pula, pedagang (pebisnis) yang jujur akan diberikan pahala tinggal bersama para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada’ (orang-orang yang mati di medan jihad).

Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Pedagang yang jujur lagi dapat dipercaya  dan dia seorang muslim bersama para nabi, ash shiddiqin dan asy syuhada’.” (HR. at Tirmidzi : 1130 & Ibnu Majah: 2139, hadits hasan shahih. Lihat Shahih at Targhib & ash Shahihah)

Akhir kata, semoga kajian yang ringkas ini dapat menjadi koreksi bagi kita semua. Tiada seorang pun yang bersih dari noda dosa dan kesalahan. Seyogyanya kita selalu berusaha untuk berjalan diatas prinsip kejujuran. Bila ada kelalaian hendaknya kita segera bertaubat kepada Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala menggolongkan kita termasuk hamba-hambanya yang jujur. Amien, ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu ‘alam bishshawwab.

Ayo beli versi buku sakunya untuk souvenir buat keluarga dan sarana dakwah di http://www.buletinsaku.com/product/edisi-01/

 

Tinggalkan Balasan

Related Posts

ADAB KETIKA SAKIT

Para pembaca rahimakumullah, dunia merupakan kehidupan yang penuh dengan ujian. Beragam ujian akan dirasakan

Cahaya Bakti tuk Ayah Bunda

 Mengenal Jerih Payah Ayah Bunda Anak merupakan dambaan setiap orang. Kehadirannya menjadi penyejuk pandangan orang