+(62) 812 3475 557
+(62) 812 3447 5557
buletin_saku
admin@buletinsaku.com

Blog Post

ADAB KETIKA SAKIT

Para pembaca rahimakumullah, dunia merupakan kehidupan yang penuh dengan ujian. Beragam ujian akan dirasakan oleh setiap insan, baik berupa kesenangan ataupun kesedihan.
Allah Ta’ala menegaskan dalam firman-Nya;

”Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (al Anbiya: 35)

Semua itu Allah Ta’ala takdirkan dalam rangka untuk melihat siapa diantara hamba-hambaNya yang jujur dalam keimanannya. Siapa pula diantara mereka yang bersabar, bersyukur dan terbaik amalannya.

SAKIT BAGIAN DARI UJIAN
Para pembaca rahimakumullah, sakit merupakan salah satu ujian dari jenis kesedihan dan kesusahan. Seseorang yang sakit telah dicabut darinya sebuah nikmat yang besar yaitu nikmat kesehatan. Dia baru menyadari nikmatnya sehat ketika rasa sakit telah menghinggapi dirinya. Demikianlah keadaaan mayoritas kita, tidak menyadari betapa penting dan besarnya nikmat kesehatan, kebanyakan justru melalaikannya, padahal Rasulullah ` telah mengingatkan:

”Ada dua nikmat yang kebanyakan orang lalai darinya, yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Namun ketahuilah bahwa sakit yang menimpa seseorang bisa berbuah kebaikan dan bisa berbuah kejelekan. Baginda Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

”Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum pasti akan menguji mereka. Barangsiapa ridha dengan ujian tersebut maka baginya keridhaanNya. Namun barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaanNya pula.” (HR. At Tirmidzi dan Ibn Majah).

ADAB-ADAB KETIKA SAKIT
Para pembaca rahimakumullah, agama Islam merupakan agama yang penuh dengan hikmah. Berbagai cara dan jalan agar seorang hamba senantiasa menggali pahala telah dijelaskan dalam syariat ini, kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun keadaan hamba.

Demikian pula ketika seseorang sedang mengalami sakit, maka syariat yang sempurna ini telah memberikan rambu-rambu dan adab-adab untuknya agar tetap bisa menghambakan dirinya kepada sang Khalik.

Diantara adab-adab tersebut adalah:

  1. Hendaknya ridha dan bersabar atas sakit yang dideritanya, semua itu tidak lain merupakan ketentuan dan takdir yang telah ditetapkan Allah Ta’ala baginya.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya semua keadaannya baik baginya, dan tidaklah keadaan ini dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila kesenangan dia dapatkan, dia bersyukur, maka hal itu kebaikan baginya. Apabila kesusahan menimpanya, dia bersabar, maka hal itu juga kebaikan baginya.” (HR. Muslim)Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, Allah Ta’ala berfirman dalam hadist Qudsi:
    “Aku sesuai dengan sangkaan hambaKu terhadapKu.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

    Maka hendaknya dia senantiasa berbaik sangka kepada Allah Ta’ala dengan mengharap rahmat dan ampunan atas dosa-dosanya.

  2. Wajib baginya untuk tetap melaksanakan hal-hal yang diwajibkan Allah Ta’ala semampunya, seperti kewajiban shalat 5 waktu dan yang lainnya. Jangan menganggap bahwa sakitnya merupakan suatu uzur (halangan) baginya untuk meninggalkan shalat. Shalat tetap wajib dilaksanakan sesuai dengan kemampuannya.Suatu hari sahabat Imran bin Husain rashiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara shalat baginya yang ketika itu dia sedang menderita sakit ambeien.

    Maka beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Shalatlah dengan cara berdiri. Jika tidak mampu maka duduklah. Jika tidak mampu pula maka berbaringlah di atas rusuk (miring). Jika tetap tidak mampu maka telentanglah.” (HR. al Bukhari dan an Nasai).

  3. Memperbanyak dzikir dan doa kepada Allah Ta’ala serta tidak berputus asa dari rahmatNya, karena sesungguhnya segala penyakit itu ada obatnya, kecuali tua dan kematian.
    Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Sesungguhnya doa itu bermanfaat untuk mengatasi apa yang telah menimpa dan yang belum menimpa. Maka berdoalah wahai hamba-hamba Allah.” (HR. at Tirmidzi).
  4. Menumbuhkan rasa takut akan azab Allah Ta’ala dan harapan untuk mendapatkan rahmatNya. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita;
    “Suatu hari nabi menemui seorang pemuda yang sedang menghadapi kematian. Beliau berkata; “Bagaimana keadaanmu?  Dia menjawab; “Demi Allah ya Rasulullah sungguh aku berharap (rahmat) Allah dan aku takut akan dosa-dosaku.”Maka kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Tidaklah dua sifat ini berada pada hati seorang hamba ketika keadaannya seperti ini, melainkan Allah akan memberikan apa yang dia harapkan dan memberikan keamanan atas apa yang dia takutkan.”
    (HR. at Tirmidzi dan Ibn Majah)
  5. Jika memang dibutuhkan untuk berobat maka berobatlah dengan cara-cara yang syar’i. Jangan sampai melampaui batasan-batasan syariat dalam berobat, seperti mendatangi ‘orang pintar’, dukun dan semisalnya, mengkonsumsi makanan yang diharamkan. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun kemudian membenarkan berita yang dikatakannya maka dia telah kafir terhadap syari’at yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi dan Ibn Majah dari sahabat Abu Hurairah rahidyallahu ‘anhu).

    Termasuk perkara yang penting untuk diperhatikan ketika dia sedang berobat, janganlah menyandarkan dan menggantungkan kesembuhannya kepada obat tersebut atau dokter yang memberikan terapi. Wajib baginya untuk bertawakal dan menyandarkan secara penuh kepada Allah Ta’ala , karena Dialah Dzat satu-satunya yang mampu menyembuhkan. Allah Ta’ala menyebutkan ucapan nabi Ibrahim:

    ”Dan apabila aku sakit maka Dialah yang menyembuhkanku.” (as Syu’ara : 80).

  6. Tidak boleh baginya mengharapkan kematian walaupun sakitnya bertambah parah. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya. Jika memang harus melakukannya, maka hendaknya dia berdoa:
    “Ya Allah, hidupkanlah aku bila kehidupan itu lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku bila kematian itu lebih baik bagiku.” (Muttafaqun ‘alaih dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma)
  7. Apabila ada hak orang lain yang belum dia penuhi maka hendaklah segera diselesaikan jika dia mampu. Jika tidak mampu, hendaknya mewasiatkannya kepada keluarganya untuk menyelesaikannya.Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Barangsiapa berbuat kezaliman terhadap saudaranya, baik pada harga dirinya atau hartanya, hendaknya diselesaikan sebelum datangnya hari kiamat yang tidak berguna dinar maupun dirham. Apabila dia memiliki amal shalih, akan diambil darinya sesuai kadar kezalimannya lalu diberikan kepada yang dizaliminya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan-kebaikan, akan diambil dari kejelekan orang yang dizalimi lalu dipikulkan kepadanya.” (HR. al Bukhari dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

  8. Berwasiat kepada keluarga agar jika ajal menjemputnya untuk melakukan prosesi pengurusan jenazahnya sesuai dengan prosesi yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dahulu para sahabat sangat menekankan kepada keluarganya untuk mengurus jenazahnya sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adalah Saad bin Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu ketika menjelang wafatnya berwasiat kepada putranya:

    “Buatlah liang lahat untukku, dan tegakkanlah atasku bata sebagaimana dilakukan demikian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim).

    Demikian pula sahabat Abu Musa radhiyallahu ‘anhu berkata saat dirasa ajal mendekat padanya:

    “Apabila kalian berangkat membawa jenazahku maka cepatlah dalam berjalan. Jangan mengikutkan (jenazahku) dengan bara api. Sungguh jangan kalian membuat sesuatu yang akan menghalangiku dengan tanah. Janganlah membuat bangunan di atas kuburku. Aku mempersaksikan kepada kalian bahwa aku berlepas diri dari al-haliqah (wanita yang mencukur gundul rambutnya karena tertimpa musibah), as-saliqah (wanita yang menjerit karena tertimpa musibah), dan al-khariqah (wanita yang merobek-robek pakaiannya karena tertimpa musibah).” Mereka bertanya: “Apakah engkau mendengar dari Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu?” Dia menjawab: “Ya, dari Rasulullah `.”
    (HR. Ahmad dan yang lainnya).

NASEHAT BAGI KELUARGA SI SAKIT
Para pembaca rahimakumullah, tentu suatu kesedihan bagi keluarga atau kerabat yang mendapati salah satu anggota keluarganya sakit atau tertimpa musibah. Ini adalah suatu hal yang lumrah. Namun meskipun sedang bersedih, hendaknya tetap menjaga batasan-batasan syariat sehingga kesedihannya tidak berbuah kejelekan, dan inilah yang seharusnya kita lakukan.
Maka disini ada beberapa nasehat yang ingin kami sampaikan kepada keluarga dan kerabat si sakit, diantaranya:

1. Meyakini bahwa apa yang menimpa salah satu anggota keluarganya merupakan takdir yang telah ditentukan dan dikehendaki oleh Allah Ta’ala . Allah Ta’ala berfirman;

“Tidak ada suatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barangsiapa beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. at Taghabun : 11)

Demikian pula jangan iringi kesedihan tersebut dengan penyesalan dengan mengucapkan “Duhai seandainya aku melakukan ini dan itu, tentunya dia tidak akan sakit seperti ini” atau ucapan semisalnya, karena yang demikian ini dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah ketimbang mukmin yang lemah. Namun pada masing-masingnya ada kebaikan. Bersemangatlah engkau terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mintalah tolong kepada Allah serta janganlah lemah. Jika suatu musibah menimpamu maka janganlah engkau berucap “Duhai seandainya aku melakukan ini dan itu” akan tetapi katakanlah : Semua ini telah ditakdirkan Allah dan apa yang Dia kehendaki niscaya akan dilakukan, karena berandai-andai akan membuka pintu setan.” (HR. Muslim).

2. Ketahuilah bahwa musibah dan cobaan yang sedang dirasakan sangatlah ringan jika dibandingkan dengan ujian yang dirasakan orang-orang sebelum kita, dan semua itu merupakan tanda bahwa Allah Ta’ala menginginkan kebaikan pada kita.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya siapa orang yang paling berat cobaannya, beliau bersabda,
“Para Nabi kemudian yang semisal dengan mereka kemudian yang semisal. Seseorang akan diuji sesuai dengan keimanannya, kalau imannya kuat maka akan semakin berat ujiannya, dan kalau imannya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan kadar keimanannya tersebut. Ujian akan senantiasa menimpa seorang hamba hingga tidak punya dosa lagi di dunia ini.” (HR. at Tirmidzi dan Ibn Majah dari sahabat Abu Mush’ab radhiyallahu ‘anhu).

Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang Allah Ta’ala kehendaki kebaikan, maka Allah timpakan musibah kepadanya.“(HR. al Bukhari).

3. Bersabar dan berharap pahala serta yakinlah bahwa semua kesusahan akan ada jalan keluarnya.
Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya pertolongan datang bersama kesabaran, jalan keluar bersama kesempitan, kesusahan akan berakhir dengan kemudahan.” (HR. al Khatib dan ad Dailami).

4. Bantu dan ingatkan si sakit untuk tetap bersabar, berdoa, bertawakal dan tetap mengerjakan ibadah-ibadah terkhusus yang wajib seperti berthaharah (bersuci), shalat dan yang lainnya.

5. Jika Allah Ta’ala takdirkan untuk memanggil si sakit (wafat) maka bersabar, berdoa dan berharaplah pahala.
Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
”Tidak ada seorang hamba pun yang apabila ditimpa musibah kemudian dia mengucapkan;

“Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya, ya Allah berikanlah pahala bagiku karena musibah ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik, niscaya Allah akan memberikan pahala karena musibah tersebut dan menggantinya dengan yang lebih baik.” (HR. Muslim).

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

”Tidak ada balasan bagi seorang mukmin di sisiKu apabila Aku mengambil orang yang disayanginya di dunia ini kemudian dia berharap pahala dariKu melainkan surga.” (HR. al Bukhari).

Apabila yang meninggal adalah anak kecil, maka ingatlah sabda baginda Rasul  shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut: “Tidak satu pun diantara kalian yang ditinggal (wafat) oleh tiga orang anaknya kemudian dia berharap pahala melainkan dia akan masuk surga.” Lalu ada yang bertanya; “ atau dua orang ya Rasulullah?” Beliau ` menjawab; “ atau dua orang.“ (HR. Muslim)

Sabda Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain:
“Demi dzat yang jiwaku yang berada di tanganNya, sesungguhnya seorang anak yang meninggal karena keguguran akan menarik ibunya dengan tali pusarnya ke dalam surga apabila ibu tadi berharap pahala (dengan musibah tersebut).” (HR. Ibn Majah).

Demikian pula jangan lupa untuk menunaikan wasiat yang diwasiatkan oleh si sakit sebelum meninggal selama wasiat tersebut mengandung kebaikan.

6. Hendaknya senantiasa menjadikan sunnah Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bimbingan ketika sedang melayani si sakit, baik ketika sedang berada di sisi si sakit, ketika sedang sakaratul maut, ketika hendak dikuburkan dan bahkan setelah dikuburkan serta hari-hari berikutnya.

7. Terkhusus ketika si sakit mengalami sakaratul maut maka bagi yang ada di sisinya hendaknya menalqinkan/memerintahkannya untuk mengucapkan LA ILAHA ILLALLAH.
Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, talqinkanlah kepada orang yang menjelang kematiannya kalimat LA ILAHA ILLALLAH. Barangsiapa yang akhir ucapannya, LA ILAHA ILLALLAH, maka dia akan masuk surga…( HR. Muslim )

Menalqin tidak cukup dengan memperdengarkannya tapi dengan memerintahkan untuk mengucapkannya.
Allahu a’lam bish shawab.

*****

Tinggalkan Balasan

Related Posts

Kewajiban Bertauhid Dan Menjauhi Kesyirikan

Tujuan Diciptakannya Manusia Tak jarang dari umat manusia yang belum memahami dengan sebenarnya akan

Cahaya Bakti tuk Ayah Bunda

 Mengenal Jerih Payah Ayah Bunda Anak merupakan dambaan setiap orang. Kehadirannya menjadi penyejuk pandangan orang

Arti Sebuah Kejujuran
ARTI SEBUAH KEJUJURAN

Para pembaca yang mulia, menyoal kejujuran adalah suatu topik pembicaraan yang mahal. Kejujuran tak